Jemparingan Mataram – SEJARAH

Jemparingan Mataram

Jemparingan kian-hari kian digemari SEMUA kalangan, baik anak-anak s/d lanjut-usia, tidak hanya di Jogjakarta, tapi menyebar pesat ke kota-kota lain BAHKAN sampai ke  Mancanegara


Jemparingan Langenastro di program My Trip My Adventure – TransTV


jemparingan mataram jogja sejarah nusantara langenastro

01. Panahan TRADISIONAL yang sekarang ada, AWALnya merupakan warisan Sri Sultan Hamengku Buwono 1 untuk melatih jiwa ksatria para prajurit / abdi dalem; dan SAMPAI SEKARANG masih tetap dijaga dan dilestarikan para Abdi-dalem kraton kasultanan Yogyakarta.

Sedari kecil, Beliau dikenal sangat cakap dalam olah keprajuritan, mahir berkuda, dan bermain senjata. Selain itu, beliau juga dikenal sangat taat beribadah sembari tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Budaya Jawa.


02. Pasca merdeka, Indonesia mulai berpartisipasi dan mengambil peranannya dalam pergaulan dunia melalui olahraga.

jemparingan mataram sejarah-nusantara-jegulan-jogja-adalah-filosofi
Sri Paku Alam ke VIII, yang kala itu merupakan Wakil Kepala Daerah Yogyakarta mendampingi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, adalah seorang PEMANAH JEMPARINGAN yg handal, bahkan Beliaulah tokoh pendiri Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (Perpani).

Dengan seijin Sultan, beliau merombak sedikit Gaya JEMPARINGAN lama (jegulan), yg tadinya busur posisi horisontal, memanah dg hati (bukan dibidik dg mata. Lihat gambar), menjadi posisi duduk bersila (tetap), tapi posisi busur miring/ diagonal, membidik sasaran dg ‘nginceng’ melihat melalui KALENAN / jendela-bidik 3 cm (kalangkinantang).

Pada tahun 1953 Sri Paku Alam VIII mendirikan Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (Perpani). Upaya Paku Alam VIII untuk mengembangkan Perpani yaitu memperjuangkan olahraga panahan sebagai pertandingan resmi yang diperlombakan dalam PON, mengembangkan olahraga panahan di kalangan masyarakat dan mendaftarkan Perpani sebagai anggota persatuan panahan Internasional FITA.


03. Setelah vakum lama, Paseduluran jemparingan Langenstro, kampung Langenastran, Kraton Yogyakarta mulai menghidupkan kembali seni jemparingan ini, dan mendapat ijin untuk menyelenggarakan gladen, bahkan Tanggap-Warsa LANGENASTRO (Ulang-tahun) ke-1, 2, dan 3, SEMUANYA diselenggarakan di kraton Yogyakarta, tepatnya di halaman bangsal Kamandungan.

jemparingan mataram sejarah nusantara jogja solo panahan tradisional langenastro


Dari arena gladen jemparingan Rutin Selasa Wage dalam rangka Tingalan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, 13 September 2011, bertempat di halaman Kemandhungan Kidul, Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Diabadikan oleh Agus Yuniarso (http://agus.yuniarso.com) untuk Galeri Video Yogyakarta (http://www.galerivideo.org). (*)


jemparingan mataram sejarah-nusantara-jegulan-adalah jogja-filosofi

04. Jemparingan (jegulan) yg dulunya khusus Abdi-Dalem Kraton Jogja, sekarang diajarkan untuk UMUM di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan.

jemparingan mataram sejarah jegulan panahan jogja nusantara

Paseduluran Jemparingan LANGENASTRO menjadi SAKSI peristiwa bersejarah ini, sekaligus menjadi cantrik-cantrik PERTAMA bersama dulur-dulur dari jogja dan kota-kota sekitarnya, yg diajar LANGSUNG oleh KRATON Jogjakarta.

jemparingan mataram jegulan panahan jogja nusantara

Dari dulur-dulur Paseduluran Jemparingan Langenastro yang mewakili belajar LANGSUNG dg KRT Jatiningrat dan para Kanjeng yg lain, diantaranya :
– mas Topeeq,

– mas Andi Imogiri,
– mas Maryanto,
– mas Danang
– mas Budi & istri
– AyahKRIS (www.AyahKRIS.com)

HOME

 

Advertisements